Mafia Hukum atau Mafia Keadilan?

Mungkin judul kalimat diatas akan menjadi sesuatu yang diperrtanyakan banyak pihak. Bahkan, mungkin akan dicerca banyak orang yang berlindung dibalik “simbol kesucian” bahwa hukum adalah sesuatu yang “sakral” yang harus terlepas dari seluruh perbuatan “tercela”.
“Tercela” adalah perbuatan atau tindakan yang sangat dibenci banyak orang. Bahkan, banyak orang akan megutuk tindakan atau perbuatan ini.
Tapi, apakah menjatuhkan pilihan antara Mafia Hukum atau Mafia Keadilan adalah perbuatan yang salah?
Marilah kita memberikan kajian antara Mafia Hukum dengan Mafia Keadilan.
Mafia Hukum
Kalimat mafia hukum seakan menjadi momok yang sangat dibenci atau dihindari aparat penegak hukum (baik itu Advokat, Jaksa atau Penuntut Umum, Polisi atau Penyidik dan Hakim). Seakan kalimat ini selalu dihindari untuk dilekatkan pada profesi yang dijalani mereka. Seakan apabila kalimat ini dilekatkan pada profesi mereka, maka mereka akan langsung meradang dan mencari jalan untuk lepas dari kalimat tersebut.
Tapi, secara fakta, Mafia Hukum adalah sesuatu yang sulit untuk dihindari dari praktek penegakan hukum yang ada di negeri ini. Tanpa Mafia Hukum, tak akan mungkin seorang praktisi hukum seperti Advokat akan meraih apa yang diinginkan dalam menjalankan profesinya. Bukan keinginan meraih materi atau bayaran, melainkan keinginan untuk mencapai hasil maksimal dalam pekerjaan profesinya. Keinginan untuk memenangkan perkara yang seharusnya secara aturan hukum maupun teori hukum harus menang. Tapi, tanpa perbuatan “Mafia Hukum” maka kemenangan yang seharusnya diraih akan menguap begitu saja dan hilang tanpa bekas.
Itulah praktek yang selama ini terjadi di lapangan. Praktek yang sudah menjadi rahasia umum dan tidak bisa dipungkiri.
Salah satu contoh yang sangat kental adalah dalam kasus penyalahgunaan narkotika. Saat seseorang diduga atau kedapatan membawa narkotika dalam ukuran tertentu yang seharusnya secara aturan perundang-undangan lebih diupayakan agar direhabilitasi karena mereka adalah korban para bandar pengedar narkotika, maka mereka harus merasakan sulitnya menempuh jalan penyembuhan.
Penyidikan yang dilakukan terhadap diri mereka akan diarahkan kepada Pasal 112 yang nyata-nyata adalah pasal yang tidak mungkin menjatuhkan putusan rehabilitasi bagi mereka. Saat mereka mengakui bahwa mereka hanya pemakai atau pecandu yang seharusnya direhabilitasi, maka untuk memasukkan Pasal 127 yang memberi kesempatan putusan rehabilitasi pada mereka, maka harus dilakukan dengan upaya negosiasi harga. Negosiasi harga yang jumlahnya sangat tidak sedikit yang mencapai puluhan juta. Apabila tidak bisa menyediakan harga yang diminta, maka dengan terpaksa mereka korban peredaran narkotika harus menerima hanya Pasal 112 belaka yang ada dalam berkas perkara. Dengan hanya membawa Pasal 112, maka mereka harus pasrah dihukum penjara tanpa ada upaya rehabilitasi. Dan, bukan tidak mungkin, saat menjalani hukuman penjara mereka akan menjadi lebih jauh masuk dalam dunia hitam narkotika, karena memang hukum tidak berpihak pada mereka.
Saat seperti inilah, prinsip “Mafia Hukum” harus dijalankan demi menjaga hakIhak hukum masyarakat yang memang sudah seharusnya menjadi hak mereka dijalankan. Mau tidak mau, setuju tidak setuju, harus dilakukan negosiasi harga untuk memasukkan Pasal 127 agar mereka bisa direhabilitasi.
Dan, hal ini sudah menjadi rahasia umum dalam praktek penegakan hukum kita.
Mafia Keadilan
Adapun yang saya maksud dengan Mafia Keadilan disini, adalah perbuatan yang hampir sama tapi tidak serupa dengan Mafia Hukum. Pada kondisi Mafia Keadilan, seorang penegak hukum akan melakukan apa saja demi uang asal putusan yang dihasilkan hukum sesuai dengan yang diinginkan. Putusan yang dihasilkan bukanlah suatu putusan yang sesuai dengan aturan hukum maupun teori hukum. Putusan yang salah yang jauh dari nilai keadilan.
Tapi dengan melakukan “negosiasi materi” dalam proses penegakan hukumnya, maka keadilan bisa dibeli. Prinsipinya, pada Mafia Keadilan adalah “menegakkan benang basah” dan merugikan nilai-nilai keadilan yang seharusnya.

Inilah pilihan yang harus dibuat, sekarang terserah anda mau memilih yang mana.

Tulisan singkat saat menikmati Coffe di siang hari terik di Sidoarjo
Senin 30 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s